Paste your Google Webmaster Tools verification code here

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro menegaskan hunian dengan konsep transit oriented development harus diberikan bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.

Rumah susun berkonsep TOD, katanya, harus diperuntukkan bagi masyarakat menengah ke bawah atau berpenghasilan rendah. Oleh sebab itu, hunian TOD harus berada di arena sekitar stasiun agar bisa mengurangi biaya transportasi.

“Jangan sampai TOD ini tidak menyasar kelompok menengah bawah, malah menengah atas. Ini harus dihindari, kuncinya di spesifikasi jenis apartemen yang akan dipasarkan,” kata Bambang di sela-sela seminar Menatap Masa Depan jakarta, di Hotel Borobudur, Rabu (21/2).

TOD adalah konsep proyek properti di titik-titik pemberhentian transportasi, seperti LRT dan statiun kereta api. Pemilik hunian di kawasan TOD juga bisa mempersingkat waktu tempuh perjalanan ke tempat tujuan.

Bambang menjelaskan pembangunan TOD bertujuan mengurangi kesenjangan hunian bagi masyarakat kelas bawah di perkotaan. Pemerintah harus memastikan hunian TOD ini dipasarkan tepat sasaran.

“Dengan konsep TOD, perkantoran nanti akan menyebar, tidak hanya di downtown. Tetapi di berbagai tempat. Karena TOD akan mendorong kota mandiri,” paparnya.

Adapun panduan untuk menjadikan TOD sebagai indikator kesuksesan kota mandiri telah didukung pula dengan pembangunan infrastruktur dan transportasi.

Nantinya, semua stasiun dan light rail transit (LRT) atau kereta ringan juga harus mengembangkan hunian TOD untuk kelas menengah ke bawah. Salah satu pengembang yang berpeluang mengelola ini adalah perusahaan properti Perum Perumnas.

Sementara itu, untuk radius pengembangan TOD nanti, kata Bambang, akan sangat bergantung dengan ketersediaan lahan yang dimiliki oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Editor : M. Rochmad Purboyo
Dikutip dari : properti.bisnis.com