Tren arsitektur ini menggejala di kalangan pasangan muda karir dengan anak sedikit dan jarang menerima tamu.

Rumah Inward Looking

Rumah Inward Looking

Dalam sistem budaya kita, rumah berfungsi sosial. Itulah sebabnya desain rumah-rumah kita dulu memberi porsi besar pada ruang tamu. Tapi, kehidupan kota yang sibuk, tidak hirau satu sama lain, bahkan dengan tetangga sekalipun, membuat budaya itu tergerus. Fungsi privaterumah makin menonjol, fungsi sosialnya surut. Dan itu tercermin dalam tren arsitektur beberapa tahun terakhir.
Ruang tamu mengecil, kamar utama atau ruang keluarga membesar. Dulu ruang tamu bisa diisi sofa tiga dudukan plus beberapa dudukan lain, kini paling dua dudukan ditambah satu yang sekaligus berfungsi sebagai aksesoris. “Jadi, tak ada ruang untuk banyak tamu atau tamu berlama-lama,” kata Adi Astuti Irawan, desainer interior PT Garis Design Selaras.
Tren arsitektur inward looking (melihat ke dalam) ini mengemuka di kalangan pasangan muda karir dengan anak sedikit, bertemu sekali seminggu saja, dan jarang menerima tamu. Mereka sudah lelah lima hari penuh didera kehidupan kota. Karena itu enggan kedatangan tamu lama. Mereka benar-benar ingin memanfaatkan hari libur untuk istirahat, bercengkarama dengan keluarga, atau mengurung diri dengan pasangan.

Ruang keluarga
Maka, ruang tamu pun diperkecil, biasanya 5 x 6 kini cukup 3 x 3. Sementara ruang keluarga diperluas menjadi 7 x 7 atau 8 x 7. Ruang ini dilengkapi sofa, karpet (ada juga yang pakai tatami) berikut perangkat audio video dengan layar besar dan sound system yahud. Foyer memisahkan ruang tamu dengan ruang keluarga.
Ruang keluarga menyatu dengan ruang makan. Ruang makan dilengkapi pantry (dapur bersih). Jadi, kalau mau memanggang roti atau bikin hot tea, tak perlu ke dapur kotor, cukup di pantry. Perabot dan perkakasnya didesain serba kompak dan praktis, seperti microwavedan pemanggang roti, sehingga penghuni tinggal memanaskan makanan atau memasukkan roti ke alat pemanggang.
Sebagian melengkapi pantry dengan minibar atau meja tinggi dengan dua tiga dudukan. “Yang mau berangkat kerja sarapan di situ,” kata Astuti. Sebuah kong liong (pintu besar tanpa daun) menghubungkan pantry dengan dapur kotor. Ukuran dapur kotor antara 2 x 2 sampai 3 x 3. Di sini ada meja kecil tempat makan keluarga sehari-hari.

Sosialisasi
Pasangan muda karir itu juga bersosialisasi. Tapi, dengan kerabat dekat, relasi, teman atau kolega kantor, bukan tetangga sebelah menyebelah. Untuk itu mereka dibawa ke ruang keluarga atau ruang makan, bukan ruang tamu. Karena itu ukuran ruang makan dan pantrysama dengan ruang keluarga. Di ruang makan ditaruh meja berkapasitas 5 – 7 kursi untuk formal dining. Bila acaranya informal, kongkow digelar di tempat lain, misalnya barbeque di taman atau dekat kolam renang.
Sebagian pasangan kadang-kadang membuat dua ruang keluarga, satu di atas satu di bawah. Jadi, bila ruang makan (yang menyatu dengan ruang keluarga itu) kedatangan tamu, kerabat atau penghuni lain di rumah bisa pindah ke ruang keluarga yang satunya.

Kamar tidur
Perluasan serupa terjadi pada kamar tidur utama, dari biasanya 4 x 5 atau 6 x 5 menjadi 6 x 10. Ruang tidur disatukan dengan dengan kamar mandi, dengan wardrobe (lemari pakaian terbuka) dan ruang berhias sebagai perekat (walk in closet). Dengan demikian, sehabis mandi Anda bisa langsung berdandan, berpakaian, dan siap terbang ke tempat kerja.
Kamar mandi dilengkapi bathtub, jacuzzi atau whirpool. Jadi, penghuni tidak sekedar mandi tapi sekaligus memanjakan diri atau memuaskan kenikmatan tubuh. Sementara ruang tidur dilengkapi sofa, karpet atau tatami, perangkat audio video dengan tata suara dan monitor besar, plus meja kecil tempat menaruh kudapan yang bisa dibawa ke tempat tidur.
Bila rumah bertingkat, posisi kamar tidur di lantai atas, sehingga makin menegaskan sikap penghuni untuk tidak mau diganggu. “Kalau pasangan belum punya anak, atau tidak suka mengundang teman-teman ke rumah, yang digedein hanya master bed room,” katanya.

Minimalis
Bagaimana dengan arsitektur rumahnya? “Pasangan muda biasanya cenderung memilih desain minimalis dengan garis-garis vertikal dan horizontal,” jawab Astuti. Sementara pasangan 50 tahun ke atas masih memilih mediteranian atau klasik, tapi desain interiornya minimalis.
Perabot dan aksesorinya juga mengikuti: modelnya sederhana dengan garis-garis lurus, sedikit aksen, praktis, kompak dan instan. Pendeknya, di rumah mereka tidak mau pusing lagi, pengen tenang dan intim dengan pasangan atau keluarga. Sofa misalnya, bergaya kota-kotak, dengan dudukan seperti tikar, atau bernuansa tradisional etnik seperti coconut shelf (batok kelapa).
Begitu pula tempat tidur, meja, kaca, frame, lemari pajang: minim ornamen dan dekorasi. Lemari dan tempat tidur berukir sudah ditinggalkan. Aksennya lagi-lagi bernuansa etnik, tradisional atau natural. Aksen lemari misalnya, tatahan bambu. Sementara aksesorisnya reproduksi foto bangunan lama, mobil tua, jembatan gantung, kain tenun, lukisan abstrak, ditambah patung etnik, botol unik, dan vas bunga lucu.
Penempatan perabot dan aksesoris dibatasi sehingga ruang-ruang tetap terkesan lapang dan tidak ramai. Pilihan warna kembali ke alam: coklat, dove, krem, putih, pastel, warna kayu, biru muda, hijau muda. Khusus kamar tidur warna sedikit lebih muda. Sedangkan tata cahaya menggunakan lampu dimmer atau lampu kuning yang agak redup.
Umumnya rumah tanpa balkon, dilengkapi ruang baca, ruang kerja dan ruang fitness (bahkan ada yang membuat ruang karaoke), yang makin menegaskan sikap “tak ingin diganggu” penghuninya. Astuti tidak tahu kenapa desain inward looking itu ngetrend di kalangan pasangan muda karir. “Mungkin sekedar mode, atau orang makin rasional, atau bisa juga karena makin banyak persoalan sehingga orang butuh rumah yang menenangkan, enjoy, easy maintenance,” katanya. Yoenazh K Azhar

Sumber : housing-estate.com