fbpx

Small is beautiful. Bisa jadi motto ini yang dipakai pengembang Axel Stawski. Bukan kelas superkonglomerat, meski punya enam gedung kantor di daerah Manhattan, New York, AS, tapi Swaski selalu mendesain gedung-gedungnya dengan gaya yang tidak biasa. Dan ini yang membuat gedung-gedungnya tidak saja bercita rasa tinggi, tarif sewanya pun melangit.

Salah satu gedung miliknya beralamat di 565 Fifth Avenue, di pojokan 46th Street, hanya berluas 35.300 m2. Tingginya cuma 30 lantai, jadi jelas tidak termasuk kategori pencakar langit New York. Ukuran tapak dan luasnya yang tidak seberapa ini, dikompensasikan dengan desain yang mengutamakan cahaya alami. Lantai lobbynya didesain ciamik, berupa lapisan kayu dalam pola tertentu, berpadu dengan lapisan marmer di dinding utama sepanjang tujuh meter.

“Tidak berlebihan, tidak juga terlihat angkuh, tapi selalu membuat orang berkata wow,” kata Stephen Sunderland, Senior Managing Director Optimal Spaces, broker realestat yang berbasis di New York, menilai gaya tipikal properti Stawski. Menurut Michael Cohen, Presiden Colliers International Group wilayah Asia, berfokus pada desain, membuat gedung-gedungnya dengan cepat menarik penyewa. “Dia punya selera estetika yang baik dan gedung-gedungnya memberi nilai pada kota,” kata Cohen.

Gedung-gedung kantor milik Stawski rata-rata berukuran kurang dari 30 ribu m2 atau seperdelapan luas gedung Empire State, salah satu ikon kota yang berjuluk the big apple ini. Stawski lebih menyukai properti dalam lahan berukuran kecil di sudut jalan, kemudian diremajakan, dan hanya ada dua-tiga gedung yang dibangun dari awal.  Stawski sangat selektif dalam mencari lokasi atau properti yang akan dikembangkan dan tidak mau sekadar ikut tren.

Sejumlah perusahaan ternama menjadi penyewa gedung-gedung Stawski. Seperti Fitch Group yang salah satu kantor internasionalnya bertempat di Broad Financial Center, 33 Whitehall Street dan the Central Bank of Norway yang berkantor di 505 Fifth Avenue.

Selain gedung kantor, Stawski juga punya gedung apartemen yang dibangun bersama pengembang lain, yaitu Soho Manhattan dan West Village.  Salah satu proyeknya yang berlokasi di 27 Wooster Street, unit penthouse-nya laris hanya enam hari setelah dilepas ke pasar senilai 28,5 juta dolar AS (Rp 375 miliar) pada tahun 2014. Delapan unit lainnya, yang juga didesain ala butik, tak kalah larisnya. Kelebihan dari unit-unit ini adalah jendelanya bisa dibuka, jadi mudah dibersihkan. Sesuatu hal yang tidak biasa untuk gedung tinggi di manapun. “Saya belum pernah melihat satu pun gedung yang setiap jendela kacanya bisa dibuka,” kata arsitek senior dari Kohn Pedersen Fox Associates.

Stawski lahir di Frankfurt, Jerman, November 1950.  Menjadi pengembang, sepertinya adalah keturunan dari ayahnya yang setelah perang dunia menjadi pengembang apartemen di Frankfurt. Anak kedua dari lima bersaudara ini tidak pernah sekolah desain atau arsitek. Lulus dari University of Birmingyham dan New York University, Stawski justru belajar hukum, hingga mendapat gelar doktor hukum internasional. Pindah ke AS tahun 1971 menjadi awal keterlibatannya di dunia realestat, di usia 22 tahun. Yaitu ketika dia diserahi tanggung jawab untuk membereskan masalah keuangan investasi bapaknya di sebuah proyek pusat belanja di Long Island, Queens, AS. Kekayaan bersih laki-laki berusia 65 tahun ini mencapai 309,4 juta dolar AS atau lebih dari Rp 4 triliun. Nilai kekayaannya itu, menurut Bloomberg Billionaires Index, mendekati kekayaan Donald Trump, yang mencapai 374 juta dolar AS atau Rp 4,9 triliun.

Saat ini Axel Stawski sedang merencanakan sebuah gedung setinggi 66 lantai, seluas 80 ribu m2 di Long Island City. Akan merangkum 921 unit apartemen, dilengkapi dengan gym, kolam renang dalam ruang dan perpustakaan. Gedung ini akan menjadi gedung terbesarnya setelah 505 Fifth Avenue.

Sumber: South China Morning Post & Housing-Estate.com