Lebih dari 80 persen masyarakat membeli rumah dengan menggunakan fasilitas pembiayaan perbankan atau KPR. Dengan membayar uang muka 10-20 persen, sisa 80-90 persennya ditalangi oleh bank yang kemudian kita cicil dengan bunga dan periode (tenor) waktu tertentu hingga lunas.

Beberapa keuntungan menggunakan skema KPR untuk pembelian rumah adalah biaya awal yang kita sediakan tidak terlalu besar selain bisa menentukan tenor KPR sesuai dengan kemampuan kita. Dengan menggunakan KPR, produk properti yang kita beli juga relatif lebih aman karena pihak bank akan ikut mengecek status legalitas maupun progres proyek tersebut.

kpr angsuran ringan

Namun tentu ada beberapa hal yang harus diperhatikan terkait fasilitas housing finance dari perbankan ini. Misalnya bila terjadi musibah terhadap diri kita ataupun di-PHK sehingga tidak bisa melanjutkan kredit, ada baiknya kita melakukan beberapa persiapan dan lebih jeli lagi meneliti dan memahami bentuk perlindungan dari bank dengan menyertakan asuransi.

“Salah satu bank syariah memberikan batas waktu hingga 14 hari agar nasabah mengerti betul yang tertera dalam lembaran kredit sebelum meneken persyaratan KPR-nya. Ini supaya tidak ada kesalahpahaman di kemudian hari bila ada kasus-kasus yang terjadi dan hal seperti ini sangat baik diterapkan untuk di semua bank,” ujar Ahmad Ifham Sholihin, CEO Amana Consulting/Sharia Banking Specialist, dalam siaran pers yang diterima housing-estate.com, Jumat (4/11).

Dalam setiap akad kredit tentunya akan tercatat pasal per pasal mengenai klausul-klausul yang ditentukan pihak bank. Pahami mengenai polis asuransi dan apa saja yang dijamin maupun yang akan didapatkan nasabah bila terjadi kondisi-kondisi yang di luar harapan. Pahami pasal per pasal tersebut dan tanyakan bila kita kurang mengerti.

Saat wawancara KPR dengan pihak bank sebelum menandatangani akad kredit menjadi momen tepat bagi kita untuk menanyakan dengan detil dan mengorek informasi sebanyak-banyaknya. Tanyakan kepada bank apakah KPR yang kita ambil tersebut sudah dijamin dengan asuransi kebakaran atau asuransi untuk kerusakan rumah yang terjadi selama proses kita mengangsur.

Beberapa bank umumnya tidak membebankan premi asuransi kebakaran kepada debitur selama tenor kreditnya berjalan tapi dibayarkan di awal bersamaan dengan biaya KPR dan provisi. Hal-hal seperti ini harus dipahami karena akan berpengaruh bila terjadi hal yang tidak diinginkan. Pernah terjadi kasus seorang istri yang harus membayar cicilan KPR setelah suaminya meninggal, ternyata dalam perjanjiannya memang tidak dilengkapi dengan asuransi jiwa.

“Jadi perlu cerewet sebelum kita melakukan tanda tangan, pahami seperti apa prosedur klaim dan hal lainnya. Jangan sampai karena ketidakpahaman kita nantinya merugikan keluarga bila terjadi sesuatu. Selain itu bayar cicilan dengan lancar karena kalau ada tunggakan asuransi juga tidak akan bisa cair,” imbuh Ahmad.

Sumber : http://www.housing-estate.com