Namun yang pasti dan tak bisa dibantah, generasi ini punya keunggulan dari sisi kuantitas. Tahun ini, Bappenas mencatat jumlah kaum muda yang berusia 20-34 tahun mencapai 90 juta atau sekitar sepertiga dari penduduk Indonesia saat ini.

MILENIAL. Diksi ini begitu populer dan banyak diperbincangkan dalam beberapa tahun terakhir. Milenial menggambarkan sebuah generasi baru yang memiliki karakter amat berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya, terutama karena keterikatan mereka dengan teknologi dan budaya pop yang sangat lekat.

Kita mungkin bisa berdebat panjang apakah karakter-karakter yang membangun kaum milenial itu merupakan kelebihan atau kekurangan dari generasi itu sendiri. Kita juga bisa saja mendiskusikan, dari malam hingga pagi, apakah karakter dan kualitas generasi tersebut memang paling cocok untuk kehidupan zaman now atau itu semua hanya klaim semata.

Namun yang pasti dan tak bisa dibantah, generasi ini punya keunggulan dari sisi kuantitas. Tahun ini, Bappenas mencatat jumlah kaum muda yang berusia 20-34 tahun mencapai 90 juta atau sekitar sepertiga dari penduduk Indonesia saat ini. Merekalah generasi milenial, generasi yang digadang-gadang akan menjadi aktor utama dari puncak bonus demografi di Indonesia pada 2020-2030 mendatang.

Karena itu menjadi sangat relevan bila saat ini mereka banyak ‘diperebutkan’. Dalam politik, misalnya, pemilih kaum milenial kini menjadi incaran menjelang perhelatan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 mendatang. Partai-partai politik mendekat, calon presiden dan calon

wakil presiden pun merapat. Mengapa? Karena jumlah suara mereka akan sangat signifikan dan diperkirakan bakal amat menentukan peta serta hasil Pemilu 2019 tersebut.

Di sektor ekonomi, generasi ini juga terus dielus-elus karena diyakini merekalah yang akan menjadi tulang punggung perekonomian Tanah Air di masa mendatang. Mereka ialah pelaku sekaligus pasar yang diproyeksikan akan terus memberikan denyut terhadap pergerakan ekonomi yang semakin dinamis. Ekonomi digital, yang akan menjadi ciri utama erekonomian masa depan adalah makanan mereka, santapan kaum milenial.

Namun, di antara kekuatan para milenial itu, mereka sebetulnya cukup rentan. Pola konsumtif dan kebiasaan yang terlalu mengakomodasi gaya hidup yang praktis tapi cenderung boros dan antisosial, membuat mereka tak terlalu memedulikan kepemilikan aset, terutama tempat tinggal. Asal hidup asyik, punya rumah sendiri bukan hal penting. Mungkin begitulah kira-kira pola pikir sebagian mereka.

Di sisi yang lain, mayoritas kaum milenial tidak punya penghasilan setinggi langit. Kebanyakan mereka masih berada di golongan menengah. Maka makin engganlah mereka untuk memiliki rumah yang harganya terus saja naik hampir tanpa jeda.

Lalu apa solusinya? Belum lama ini Ketua Kehormatan REI Lukman Purnomosidi dalam satu seminar melontarkan gagasan menarik, kenapa pemerintah tidak keluarkan saja paket kebijakan untuk mempermudah generasi milenial mendapatkan rumah? Bukankah generasi yang diandalkan menjadi tulang punggung ekonomi di masa depan itu perlu mendapat jaminan untuk bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak?

Boleh jadi itu benar. Paket kebijakan untuk para milenial tampaknya memang mendesak untuk dipertimbangkan mengingat mayoritas dari mereka sebetulnya memiliki pendapatan di atas masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), tapi belum masuk golongan masyarakat menengah ke atas.

Alhasil, di satu sisi mereka tak bisa mendapatkan subsidi perumahan yang selama ini dikucurkan pemerintah untuk MBR karena penghasilan mereka melebihi batas maksimal yang diperbolehkan untuk membeli rumah subsidi. Di lain sisi mereka juga sulit menjangkau rumah-rumah nonsubsidi yang ditawarkan pengembang komersial.

Bagaimana bentuk paket kebijakannya, itu tentu memerlukan pembicaraan teknis lebih lanjut. Tetapi yang pasti, spirit untuk mendukung kaum milenial di sektor perumahan itu patut kita apresiasi sekaligus kita dukung. Bagaimanapun, milenial adalah aset yang mesti dijaga untuk

mengoptimalkan produktivitas mereka. Salah satu bentuk penjagaan itu dengan memberikan kemudahan mereka untuk mendapatkan rumah yang layak. (*) 

Dikutip dari : http://indonesiahousing.co/merumahkan-kaum-milenial/